Sunday, 18 May 2014

NTT Kaji Nama Pelabuhan Bung Karno Ende

Gubernur Nusa Tenggara Timur frans lebu raya mengatakan Pemerintah Provinsi setempat segera mengkaji usulan pemberian nama pelabuhan ende menjadi pelabuhan bung karno jika usulan dari pemerintah kabupaten itu diserahkan.

'Pemerintah akan kaji apakah nama itu pantas diberikan pada sebuah pelabuhan laut di Ende karena mengganti sebuah nama untuk sebuah objek seperti pelabuhan laut atau bandar udara memerlukan pertimbangan dari berbagai aspek,' katanya di Kupang, Kamis.

Menurut Gubernur Lebu Raya sesuai ketentuan berlaku tersebut diproses di Jakarta harus terlebih dahulu ada dukungan dari pem provinsi setempat.

'Seperti dahulu waktu perubahan nama katanya Bandara Waioti ke Frans Seda atau Pelabuhan Sadangbui ke Laurens Say. Atau juga Bandara Satartacik ke Frans Sales Lega atau Bandara Umbu Mehang Kunda di Sumba Timur,' katanya.

Kalau proses ini ke Jakarta harus ada dukungan dari pemprov. Seperti dahulu waktu perubahan nama bandara Waioti ke Frans Seda artau Pelabuhan Sadangbui ke Laurens Say.

Menurutnya, niat pemerintah dan masyarakat Kabupaten Ende sangat mulia. 'Itu menunjukkan penghormatan kepada Bung Karno. Apalagi nama itu melekat erat dengan Ende, yang bukan dikenal sebagai tempat pengasingan Sang Proklamator itu tetapi tempat perenungan Pancasila,' katanya.

Sebelumnya, Bupati Ende Marselinus Y.W Petu Ende akan mencanangkan dan mengumumkan pergantian nama pelabuhan ende menjadipelabuhan bung karno. Untuk itu pemerintah setempat memintadukungan masyarakat atas penamaan tersebut.

Bupati Ende mengatakan, dengan penamaan ini maka kehadiran Bung Karno saat dibuang ke Ende periode 1934-1938, bisa selalu dikenang dan dikenal seluruh warga bangsa ini, bukan saja masyarakat Kabupaten Ende dan NTT khususnya.

'Saya akan mencanangkan nama pelabuhan ende menjadi pelabuhan bung karno. Karena Bung Karno namanya sudah familiar di tengah kita. Nama pelabuhan bung karno untuk mengenang beliau ketika diasingkan ke Ende. Apalagi ketika diasingkan, pelabuhan inilah yang merupakan tempat sandarnya kapal yang membawa Bung Karno bersama keluarganya,' katanya di Ende pekan lalu.

Bupati Marselinus mengatakan, pemilihan nama Bung Karno selain telah familiar alasan lainnya adalah jika menggunakan nama secara lengkap maka akan sama dengan nama pelabuhan yang ada di salah satu pelabuhan di Makassar yakni Pelabuhan Soekarno. Karena itu dirinya memakainama pelabuhan bung karno.

'Kalau pakai Pelabuhan Soekarno maka sudah ada nama salah satu pelabuhan yang ada di Makassar, makanya saya gunakan pelabuhan bung karno apalagi nama Bung Karno sudah sangat familiar,' katanya.

Gubernur Lebu Raya mengatakan sarana dan prasarana perhubungan di Nusa Tenggara Timur seperti transportasi udara, laut dan darat, dan fasilitas pendukungnya saat ini cukup melayani kebutuhan transportasi laut dan udara di daerah berbasis kepulauan ini.

'Untuk infrastruktur perhubungan laut saat ini ada sekitar 11 Kapal Motor Penyeberangan (KMP) ferypenumpang ke 10 buah pelabuhan penyeberangan di NTT dan luar NTT seperti ke Pulau Kisar,' katanya.

Gubernur menyebut armada yang dimaksud antaraantara lain KMP Ile Ape, Ile Mandiri, Uma Kalada, KMP Pulau Sabu, Nanglala, Nemberala dan KMP Ile Boleng.

Dari total 11 unit armada itu PT Fery Indonesia hanya mengoperasikan lima armada dan lainnya serta satu unit di kelola oleh Perusahaan Daerah Flobamor dan satu unit lagi untuk sementara dikelola langsung Dinas Perhubungan NTT.

Kapal-kapal ini beroperasi ke sejumlah pelabuhan seperti pelabuhan Bolok, Teluk Gurita Atapupu, Kalabahi, Waibalun, Nangakeo, Aimere, Labuanbajo, Waikelo, Waingapu dan Pantai Baru yang dimaksud yang telah beroperasi menggunakanfasilitas 'Movable Bridge' atau jembatan layang/bergerak.(ant/rd)

No comments:

Post a Comment